Di tengah2 operasi militer di Papua, ada momen2 yg mampu meruntuhkan tembok kekuasaan & jabatan. Elvis Tabuni (Bupati Puncak) menundukkan kepala, bahkan meneteskan air mata, melihat nasib rakyat yg ia pimpin. Tangisan itu bukan sekadar ekspresi emosi pribadi, melainkan cerminan dari sebuah kepedihan kolektif yg mendalam.
Ketika melihat operasi militer yg menyebabkan rakyat sipil tumbang, rasa kemanusiaan kita seolah tersentuh. Bagi seorang pemimpin, melihat rakyatnya menjadi korban dalam situasi yg penuh ketegangan adalah sebuah beban moral yg sangat berat. Air mata ET yg jatuh menjadi simbol ketidakberdayaan di hadapan realita yg keras, sekaligus menjadi bukti bahwa ikatan batin antara pemimpin & rakyat tidak bisa dipisahkan oleh sekat-sekat birokrasi.
Puncak Papua dan sekitarnya sudah terlalu lama darah mengalir tanpa henti. Suara pucuk peluru aparat bunyi dimana2 tanpa henti. Di satu sisi, upaya penegakan hukum absen. Namun di sisi lain, perlindungan terhadap nyawa rakyat sipil, hak asasi manusia, dan rasa aman bagi rakyat merupakan prinsip yg tidak boleh dilanggar. Setiap nyawa yg melayang, baik itu rakyat sipil maupun aparat penegak hukum, adalah sebuah kerugian besar bagi kita semua sebagai umat manusia.
Peristiwa di Puncak ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap laporan resmi, data statistik, atau narasi politik, terdapat manusia dengan perasaan, keluarga, dan harapan. Tangisan seorang pemimpin menjadi pengingat bahwa kekerasan & konflik hampir selalu meninggalkan luka yg sulit sembuh. Ia mengajak kita semua untuk merenung: apakah ada jalan lain selain konfrontasi? Bagaimana kita bisa menjaga keutuhan manusia sebagai ciptaan_Nya tanpa harus mengorbankan kemanusiaan?
Kita berharap, di balik kesedihan tersebut, muncul upaya-upaya nyata untuk mencari perdamaian, keadilan, dan penyelesaian yg bermartabat. Dialog, pemahaman, dan rasa saling menghormati adalah kunci untuk menghentikan siklus duka yg terus berulang diatas tanah ini. Semoga air mata tersebut menjadi awal dari perubahan, di mana setiap rakyat dapat hidup tenang, dan setiap pemimpin dapat tersenyum melihat kemajuan, bukan lg menangis melihat penderitaan dan air mata.
sumber text WAG (ARTIKEL GEMBALA DR.AMBIREK G.SOCRATEZ YOMAN)
By: Maiton Gurik_
Ap Weya Inamboko
