Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Mei 2023

Hidupkan Bahasa Ibu di Tanah Papua

 

(ilustrasi by amgix)

Ditulis Oleh : Stefanus Ukago


Sebelum masuk di pembahasan, apa yang dimaksud dengan bahasa? bahasa adalah cara komunikasi yang dimiliki oleh Tuhan,diberikan kepada manusia dan segala ciptaan Tuhan yang bisa berkomunikasi dengan caranya masing-masing. Tulisan singkat dibawa ini hasil dari beberapa blog yang saya baca dan saya lihat langsung realita di Surabaya.


Langsung saja masuk di pembahasannya


Kalau berbicara mengenai bahasa Ibu atau bahasa daerah di Papua,maka setiap suku orang asli Papua memiliki 307 bahasa. Dari tiga ratusan bahasa ini,ada beberapa bahasa yang sudah punah dan sedang punah. Terdapat dua bahasa daerah di Papua yang telah punah yaitu bahasa Tandia dan bahasa Mawes. Bahasa yang sudah mau punah adalah Bahasa Saponi di Kabupaten Waropen dan Bahasa di Fak-fak Papua.


Banyak hal yang membuat hilangnya bahasa daerah di Papua,salah satu dari sekian banyak adalah kebanyakan menggunakan bahasa Indonesia dalam berelasi dengan orang yang berbeda suku dengan kita. 


Agar bahasa lokal atau bahasa daerah tidak hilang,ada beberapa solusi yang kiranya baik untuk diterapkan di Papua. Apa saja itu ? langsung saja masuk ke point-pointnya !

1. Bahasa daerah dimasukkan dalam kurikulum sekolah

2. Menggunakan bahasa daerah di Rumah

3. Dalam kehidupan seharian,orangtua mengajarkan anak  untuk menggunakan bahasa daerah

4. Adakan TV lokal berbasis bahasa daerah  di masing-masing daerah di Papua

5. Terbitkan majalah lokal  dalam bahasa daerah di masing-masing daerah di papua

6. Mengadakan kegiatan yang dapat melestarikan bahasa daerah

7. Membuat lomba karya atau tulisan yang menggunakan  bahasa daerah

8. Membentuk komunitas bahasa daerah dari masing-masing suku/wilayah


Itulah beberapa point yang kiranya bisa menjadi solusi untuk mengatasi punahnya bahasa daerah di Papua. Sebenarnya masi banyak point-point lagi,tapi saya hanya menulis beberapa point yang saudara sudah baca diatas.Kita boleh menggunakan bahasa apa saja,asalkan kita tidak lupa dengan bahasa yang sudah ada sebelum mengenal bahasa yang datang dari luar. Kalau kita lupa dengan bahasa Ibu atau bahasa daerah dari  masing - masing suku di Papua berarti,kita bisa ibaratkan dengan kacang lupa kulit. Selamatkan bahasa daerah  di Papua !


Penulis adalah Mahasiswa Papua Yang Kuliah di Surabaya

Minggu, 16 April 2023

Selama Saya Sekolah Sejarah Papua Tidak Pernah Diajarkan

 

(Foto Penulis)

Ditulis Oleh : Stefanus Ukago

Oh iya, saya akan curhat pengalaman selama saya sekolah mulai dari SD, SMP, dan SMA. Pada waktu sekolah, saya biasa ambil bagian dalam upacara bendera merah putih setiap hari senin, baik itu jadi pemimpin upacara, pembawa bendera, pembawa teks pancasila, dan lain sebagainya. Namun, sedikit aneh setelah sampai di Jawa, setiap hari senin tidak ada upacara bendera. Hal itu saya lihat di beberapa sekolah yang saya pernah ditemui. Mengapa di Papua diwajibkan untuk upacara bendera merah Putih? Itu adalah satu cara Indonesia untuk mengindonesiakan orang Papua. Apa lagi usia sekolah sangat mudah untuk menangkap dan menyimpan di memori otak. Mengapa saya katakan Indonesia mau mengindonesiakan orang Papua? Oke saya akan jelaskan sedikit. Menurut buku yang berjudul “Jejak Kekerasan Negara dan Militerisme di Tanah Papua” penulis Dr. Socratez S. Yoman, halaman 13-14.

Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969 dianggap melanggar hukum international, maka sidang umum PBB hanya mencatat “Take note”. Istilah “take note” tidak sama dengan di sahkan. Hanya tercatat karena masih ada masalah yang serius dalam pelaksanan PEPERA 1969 di Papua Barat.
Hasil Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA 1969) hanya di catat “take note”, disebabkan oleh perlawanan sengit dari beberapa negara anggota PBB yang dimotori oleh Pemerintah Ghana. Ada sebuah data tentang Papua, data tersebut tertuang dalam dokumen PBB di New York yang berjudul: 
“Six Lists Of Summaries Of Political Communications From Unidentified Papuans To Ortiz Sanz, August 1968 to April 1969: UN Series 100, Box l, file 5.”
Para pembaca perlu mengetahui bahwa ada 15 negara dari kawasan Afrika dan Karabia pernah melawan dan menolak hasil PEPERA 1969 yang tidak adil dan dimenangkan ABRI itu.
“Pepera tahun 1969 adalah ilegal, pepera dilaksanakan di bawa tekanan militer Indonesia”. Indonesia tidak butuh manusia Papua, tetapi Indonesia butuh tanah Papua dan kekayaan yang dimiliki oleh orang Papua.
Saya selama sekolah tidak tahu kasus operasi militer RI yang katanya untuk menyelesaikan masalah di Papua, diantaranya: Seperti operasi sadar tahun 1965-1967, operasi brathayudha tahun 1967-1969, operasi wibawa tahun tahun 1969, operasi di kab. Jayawijaya tahun 1977, operasi sapu bersih 1 dan 2 tahun 1981, operasi galang 1 dan 2 tahun 1982, operasi tumpas tahun 1983-1984. Biak berdarah tahun 1998, Wasior berdarah tahun 2001, Wamena berdarah tahun 2003, Puncak Jaya berdarah tahun 2004, dan sampai tahun 2021 pun masih ada. Sumber buku “Dialog Jakarta Papua” penulis Alm. Pr. Neles Tebai.

Kita orang Papua harus sadar, bahwa jumlah orang asli sudah semakin sedikit, maka apa yang harus dilakukan? Itu adalah PR untuk orang Papua yang harus di kerjakan.
Beberapa khasus dalam hari-hari ini :
1. Kasus Ibu Risma “Mentri sosial” (ASN di Balai Wyata Guna, Bandung, untuk dipindahkan ke Papua)
2. Kasus Nabire (Pemukulan warga sipil oleh Polisi)
3. Kasus Merauke (Penangkapan pemuda OAP yang tidak profesional oleh dua anggota TNI AU). Dan masih banyak kasus yang tidak tertulis.
“Minta maaf saja tidak cukup bagi orang Papua. Sebab, manusia Papua bukan binatang yang dikatakan orang Indonesia.” BACA JUGA LINK BERIKUT
https://pugiaitaka.blogspot.com/2021/01/ipmanapadode-surabaya-ngopi-dan-di.html

Sabtu, 17 Desember 2022

Pembunuhan Karakter

(Foto Ilustrasi,TNI mengajar anak Sekolah)      "Sumber: Antar News"

Oleh Stefan Ukago 

Anak Papua adalah generasi penerus dan penentu perkembangan Tanah dan Rakyat Papua ke depan. Maka selain pintar, pembentukan karakter yang baik dari masa kecil itu sangat penting. Mengapa? Karena pintar saja tidak cukup tanpa pembentukan karakter yang baik, jika tidak membentuk karakter yang baik dari kecil, setelah dewasa sangat sulit untuk merubah karakter ke arah yang lebih baik.

Menurut saya, foto di atas ini adalah salah satu bentuk pembunuhan karakter. Mengapa? karena profesi seorang tentara sesuai dalam institusi kemiliter bukan untuk mengajar siswa/i, tetapi untuk menjaga keutuhan suatu Negara. Walau pun seorang tentara bisa mengajar, Ia tidak menguasai mata pelajaran yang di ajarkan  kepada siswa/i. Suasana pun akan berbeda dari pada Guru yang sebenarnya, siswa akan merasa tidak nyaman untuk belajar, merasa tertekan, merasa takut  DLL (walaupun tidak semua).

Memang, khusus di pedalaman Papua, Guru-guru sudah ditugaskan namun pada kenyataannya banyak Guru-guru yang tidak mau menetap dan tidak mau menjalankan tugas dan fungsi yang sudah di berikan oleh Pemerintah  (tidak mau mengajar), sehingga tentara bisa mengisi waktu kosongnya untuk mengajar. Tetapi jangan sampai hal itu terjadi, karena tugas seorang tentara adalah menjaga keutuhan suatu negara.

Kita juga jangan menilai seorang  Guru dari satu sisi saja, sebab apa yang kita lihat dan pikirkan itu belum tentu benar. Yang menjadi suatu pertanyaan sekaligus solusi adalah mengapa Guru-guru tidak betah di pedalaman Papua? menurut saya, itu adalah pertanyaan sekaligus solusi yang harus dicari sama-sama. kalau sudah dapat jawaban dan langsung bertindak, pasti Guru-guru betah  di Pedalaman Papua.

Salah satu contoh di Kec. Jita Kab. Mimika Papua, dulu Tahun 2009/2010 saya sempat  kesana  (SD Inpres Jita), banyak Guru yang mendapatkan SK namun tidak banyak yang menetap dan mengajar disana. Hanya beberapa Guru yang mau menetap dan mengajar di sana, Guru-guru yang menetap kemudiann mengajar disana adalah Pak Natalius Welerubun (Almarhum) dan Martina Goo Istrinya (Almarhumah). Kalau  yang saya lihat di Jita, Guru-guru tidak menetap karena jauh dari keramaian kota Timika, kebutuhan pokok yang bisa beli di kios kurang DLL.

Selain Guru, Sarana dan Prasarana juga penting. Karena guru pintar bagaimanapun yang ditugaskan, kadang dalam aktivitas belajar dan mengajar bisa terganggu. Kalau dilihat, sekolah-sekolah yang ada di pedalaman Papua, banyak sarana dan prasarana yang kurang. Maka, ini adalah tugas dari Dinas terkait dan Pemerintah daerah untuk melihat kemudian memperbaikinya.

Maju dan tidak suatu daerah kedepan, tetapi  ditentukan oleh didikan kepada generasi yang sekarang. Maka, bentuklah generasi yang siap bangun Papua kedepan.

Penulis: Mahasiswa Papua yang sedang menempuh pendidikan di Kota Surabaya 

Minggu, 27 November 2022

Jumat, 25 November 2022

Perspektif Persoalan Pemindahan Ibu Kota Baru

(Foto Penulis)

Ditulis oleh: Frans Pigai 

IPMANAPADODESBY.COM-Perspektif persoalan pemindahan ibu kota baru menjadi sorotan utama bagi kalangan masyarakat diberbagai wilayah Indonesia, maka penulis sebagai intelektual mempunyai gagasan mengenai persoalan pemindahan ibu kota baru. Berikut alasan yang menjadi dasar pemindahan ibu kota baru dari Jakarta ke Kalimantan Tengah.

Pertama, kita membutuhkan ibu kota baru yang merupakan genuine karya anak bangsa sendiri, sementara Jakarta tetap memiliki posisi terhormat sebagai situs sejarah.

Kedua, di Jakarta menjadi wilayah sudah relatif maju dan berkembang, tapi dilihat dengan perspektif perkembangan yang ada, Jakarta menjadi wilayah yang sangking padat dan menjadi daerah yang dampak dari berbagai persoalan kehidupan rakyat.  Kita bisa menulis berlembar-lembar soal masalah di Jakarta, seperti kemacetan lalulintas tiada henti, penduduk yang berlebih, kesenjangan sosial kaya-miskin, soal ketersediaan air bersih, banjir rutin, dan seterusnya.

Maka, pemindahan ibu kota baru ke Kalimantan Tengah, dalam rangka mempercepat proses pembangunan masyarakat dari berbagai perspektif persoalan kesejahteraan ekonomi rakyat mulai melemah, air bersih, kesenjangan sosial kaya dan miskin, penduduk yang berlebihan, untuk dan masalah sosial lainnya.

Ketiga, ibu kota de facto ibu kota baru adalah Jakarta yang berada di pusat Jakarta. Berdasarkan pertimbangan analisis dampak lingkungan, Jakarta memiliki banjir rutin. Pembuangan sampah ke sungai dan kali menyebabkan pendangkalan dan penutupan di muara sebagai pintu keluar air. Maka, Jakarta akan selalu mengalami bencana banjir. Sehingga ibu kota harus dipindahkan di Kalimantan Tengah.

Keempat, secara geografis, wilayah Kalimantan Tengah berada di tengah wilayah Negara Indonesia. Sehingga sangat mudah dijangkau dari semua penjuru, baik dari wilayah Barat, wilayah Tengah, dan wilayah Timur. Jadi, letaknya strategis.

Wacana pemindahan ibu kota baru tersebut kembali digulirkan oleh Presiden Jokowi baru-baru ini. Pemindahan ibu kota bukanlah sesuatu fenomena baru, banyak negara telah melakukannya, seperti Jerman, Brasil dan beberapa negara lainnya. Ibu kota baru dipindahkan dari Jakarta ke Kalimantan Tengah.

Penulis sebagai Intelektuan mendukung wacana pemindahan ibu kota Jakarta dari ke Kalimantan Tengah. Namun, menurut Penulis, pemindahan ibu kota baru tersebut mesti mendapat persetujuan dari berbagai kalangan.

Pemindahan ibu kota kabupaten itu pada prinsipnya kami intelektual mendukung. Tetapi ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan. Antara lain, harus ada persetujuan dari masyarakat Kalimantan Tengah sebagai pemilik hak ulayat tanah, seluruh ASN di lingkungan Pemprov, Pemkab Kalimantan Tengah setuju dan harus ada kajian hukum dan akademik tentang untung dan ruginya pemindahan ibu kota baru.

Ibu kota yang baru adalah harapan. Selain prima dalam mendukung administrasi pemerintahan, ibu kota juga merupakan etalase negeri. Kita berharap, keberadaan ibu kota baru juga meningkatkan martabat kita sebagai bangsa.Ada hikmah yang bisa kita dapatkan, bila ibu kota baru benar-benar terwujud kelak, mengingat Jakarta hari ini sudah demikian sesak dan masalahnya sudah begitu menumpuk.

Memindahkan ibu kota berarti akan mengubah arah perkembangan skala nasional. Oleh karena itu, sema aspek perlu dikaji secara detail baik aspek biaya, infrastruktur, ekonomi, geopolitik, termasuk dampak lingkungan. Hal ini agar lokasi memang benar layak untuk pembangunan dan menampung aktivitas ibu kota dalam jangka penjang. Selain itu perlu perencanaan strategi yang matang agar dampak ibu kota baru dapat memberikan manfaat dalam lingkup luas, tidak hanya sekedar pindah lokasi.

Penulis sampaikan adalah soal fakta historis Jakarta. Bahwa Jakarta juga menyimpan kisah pahit, yakni saat kota ini dijadikan pusat pemerintahan kolonial Belanda. Di balik gemerlapnya sebagai kota (Batavia), dari kota ini pula pemerintah kolonial mengatur eksploitasi tanah jajahan secara masif, sistematis dan teroganisir.

Benar, kita membutuhkan ibu kota baru yang merupakan genuine karya anak bangsa sendiri, sementara Jakarta tetap memiliki posisi terhormat sebagai situs sejarah. Bahwa dari Jakarta pula, dimulai pergerakan nasional melawan kolonial, hingga mencapai puncaknya saat teks Proklamasi dibacakan oleh Soekarno dan Hatta.

#KementeriabATR #Bappenas #IbuKotaBaru

Penulis Adalah Mahasiswa Papua di Surabaya


Sabtu, 10 September 2022

Popular Posts

Recent Posts