Dari hiruk-piluknya kota, sejenak waktu mencari ketenagan jiwa di alam lihar sebagai tempat favoriteku.

DIBALIK BISIKAN MENCARI KEHENINGAN


Oleh: Mr. Bopini

Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur, waktu seolah menjadi musuh yang paling kejam. Aku melangkah di antara beton-beton tinggi, mencari sejenak ketenangan jiwa di alam liar—tempat favoritku untuk melarikan diri.

Kota besar ini telah menyiksaku secara jiwa dan raga. Mentalitasku terkikis, dan aku kehilangan fokus terhadap apa yang sedang kulakukan atau rencanakan. Bayangkan saja, ribuan notifikasi jatuh ke dalam ponselku hanya dalam waktu lima menit. Bunyi mesin berbisik tanpa batas waktu, meruap tanpa henti. Manusia-manusia di sekelilingku bergerak dengan aktivitas yang begitu padat, menciptakan "bisikan" kolektif yang memekakkan telinga. Itulah sebabnya kota besar ini memberiku rasa tidak tenang; setiap sudutnya menawarkan kegelisahan yang sama, membuatku terasing dalam rencana-rencanaku sendiri.

Dunia kota bukan lagi tempat yang nyaman bagi batin. Aku mulai mencari dunia mana yang sanggup memberiku kesehatan jiwa dan memperbaiki suasana hati (mood). Aku menyadari bahwa alternatif terbaik untuk menghindari dunia yang bising ini adalah (alam liar). Di sanalah aku menemukan ketenangan perasaan, keheningan lingkungan, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan harmoni alami. Itulah yang paling aku rindukan dari kehidupan kota yang serba gaduh, baik di dunia maya maupun dunia nyata.

Kini, aku berdiri di sebuah hutan yang dikelilingi oleh jajaran pohon cemara yang menjulang tegak. Di situ, aku menemukan kembali dunia keheningan yang pernah hilang. Aku berinteraksi dengan alam liar dan merasakan pikiran serta jiwaku perlahan mendingin. Walaupun di hutan ini tidak ada manusia untuk diajak bicara, alam memberiku kehidupan dan harapan. Inilah reset sistem saraf secara natural; sebuah penyembuhan bagi jasmani dan perasaan.

Keheningan ini sebenarnya tidaklah sepi; ia penuh dengan percakapan tanpa kata antara akar dan tanah, antara bunga dan serangga. Aku mulai mendengar "suara" dari dalam diriku sendiri yang selama ini tenggelam oleh bisingnya mesin. Ternyata, jati diriku tidak ditemukan dalam keberhasilan-keberhasilan semu di kota, melainkan dalam kemampuanku untuk merasa cukup dengan apa yang disediakan alam. Hutan ini adalah sebuah kuil tanpa dinding, tempat di mana doa-doa dipanjatkan melalui setiap embun yang menetes di ujung daun.

Saat senja mulai turun menjemput malam, aku menyadari bahwa aku tidak sedang melarikan diri dari kenyataan, melainkan sedang menuju kenyataan yang sesungguhnya. Kota adalah panggung sandiwara, sementara alam adalah esensi dari eksistensi manusia. Aku membawa pulang sedikit dari keheningan ini di dalam dadaku, sebuah pelita kecil yang akan tetap menyala meski aku kembali ke rimba beton nanti.

Oleh sebab itu, mari kita jaga alam kita sebagai napas tersisa bagi penghuni bumi ini tanpa terkecuali. Karena tanpa alam yang sehat, jiwa kita hanyalah cangkang kosong yang tersesat di tengah kebisingan yang tak berujung.

 

IPMANAPADODE SURABAYA

Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire Paniai Dogiyai Deiyai (IPMANAPADODE) adalah sebuah wadah perkumpulan mahasiswa/i dari empat kabupaten di provensi papua tengah di antarany Kab.nabire, Paniai Dogiyai Deiyai yang di surabaya saat ini.Dulunya Perkumpulan ini bernama IPMANAPAN (Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire Paniai), Dengan adanya Pemekaran dua kabupaten yaitu Dogiyai dan Deiyai, Nama IPMANAPAN di Ganti dengan Nama IPMANAPADODE, Sehingga Nama ipmanapadode masih di gunakan sampe saat ini.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama