Ameng Ko Tegah

 

Ilustrasi Cerpen 

Di Surabaya Jawa Timur, menjadi tempat nostalgia yang terus menjadi keresahan yang harus dilawan, itulah ungkapan singkat tulisan ini. Pada akhir tahun 2024, bertemu Ameng dan Yuma. Mereka merupakan sesama mahasiswa Papua yang sedang menempuh pendidikan di Surabaya. Aktifitas Yuma yang sering berinteraksi dengan sesama mahasiswa Papua mempertemukan mereka di salah satu kontrakan mahasiswa di Surabaya. Dalam pertemuan itu terjadi percakapan :

Yuma  " Ade sore, teman-teman di kontrakan dong keluar semua, kosong ni." Ucap Yuma melihat Ameng yang duduk sendirian di kontrakan.

Ameng " Iyo Kaka dong keluar semua." 

Yuma mulai duduk sambil melepas helem, mereka saling cerita mulai dari kenalan nama, aktifitas kampus dan  keseharian mereka di Surabaya. Dalam percakapan Ameng mulai menceritakan soal kampusnya yang terganggu akibat keluarga meninggal, stres serta depresi yang dialami hingga rencana pulang Papua untuk melanjutkan kuliah.  Kebetulan Yuma juga berasal dari keluarga broken home mereka saling cerita serta tukaran kontak HP.

Setelah diskusi singkat Yuma pamit dan pergi melakukan kunjungan ke teman-teman Papua lainnya. Sekian lama mereka tidak komunikasi suatu saat HP milik Yuma bergetar, telpon dari Ameng :

Ameng " Halo Kaka, adoh Kaka sore , di Kaka pu asrama situ z bisa tinggal beberapa minggu ka sambil tunggu ortu kirim uang buat pulang Papua, z pu asrama nii dong kasih keluar z karena sudah tidak aktif kampus, trus di kontrakan nii masa kontrakan habis jadi." Ucap Ameng dalam komunikasi.

Yuma " Boleh Ade, ada z pu Kaka perempuan juga mau pulang Papua jadi kam tinggal sama-sama sambil tunggu kapal sudah, nanti Ade kesini baru bicara deng pengurus asrama baru tinggal sementara waktu trapapa Ade." Ucap Yuma.

Sekitar 15 menit Ameng tiba depan asrama bawa barang. Sesudah tiba Yuma mengenalkan pengurus asrama untuk diberikan tempat bersama teman-teman perempuan lain dari luar kota yang kebetulan singgah mau pulang Papua.

Lantaran aktifitas Yuma yang sering keluar tinggal diluar asrama serta aktifitas organisasi yang padat, mereka jarang untuk duduk cerita dalam waktu yang lama. Hingga suatu saat HP milik Yuma berdering, pesan dari Ameng :

Ameng " Kaka z Soak di asrama kita duduk di taman cerita - cerita ka, bagaimana"? Tanya Ameng.

Yuma " Boleh Ade sore ee, z masih sedikit sibuk diluar jadi." Jawab Yuma. 

Sore itu dibawah langit kota rasis Surabaya Yuma beranikan diri, jemput Ameng di asrama. Mereka duduk di taman dan bercerita soal perkembangan komunikasi orang tua untuk pulang Papua. Ameng bercerita soal mau transfer kampus dari Surabaya ke Wamena. Dari percakapan mereka, hubungan sosial mereka mulai dekat baik lewat sosial media dan bertemu langsung. 

Bulan November 2024 Yuma meninggalkan pesan untuk Ameng. 

Yuma " Ade ini ini kunci motor, ada uang sedikit ni nanti makan, beli kebutuhan kalo keluar sama sodara dong pake motor ini." Pesan singkat itu dan Yuma pergi keluar kota, tanpa memberitahu secara detail karena aktifitas organisasi yang tertutup. 

Ameng " z Desember awal ni balik Papua karena orang tua kirim uang beberapa hari kedepan." Sampe Papua Z akan ke Wamena lanjut kuliah dan kita akan jarang komunikasi Yuma." Jawab Ameng.

Yuma " Ade pergi, pulang, masa depan lebih penting, Ade anak perempuan pertama harus selesai kuliah. Jawab Yuma sembari berbalik dan pergi meninggalkan Ameng.

Yuma dan Ameng tidak komunikasi selama beberapa minggu, dalam aktifitas itu Yuma sering berpikir soal Ameng ni su pulang ke Papua ka apa ee? Truss tong su tarakan komunikasi lagi to.? Aktifitas organisasi selesai dalam 2 Minggu dan Yuma kembali ke Surabaya:

Yuma " Ade belum pulang Papua ka."? Tanya Yuma setelah mendapati Ameng masih di Surabaya.

Ameng " Ortu su kirim tiket, tapi z sengaja pake kasih habis, maaf Yuma z tramau kastinggal ko di Surabaya, z berat sumpah, berat. jawab Ameng sambil menunduk kepala. 

Yuma " Ahkk syoo, sudah Ameng Jang menangis, " jawab Yuma sambil menghapus air mata Ameng.

Yuma mulai mempertimbangkan perasaan Ameng, tanggung jawab, dan harapan orangtunya Ameng soal kuliah di Wamena. Lewat beberapa hari Yuma ambil sikap  nyatakan pada Ameng :

Yuma " Ameng ko perempuan pertama harus kasih selesai kuliah buat tunjang keluarga, ini z sudah beli tiket buat ko, ini ada uang ko pake diatas kapal." Jawab Yuma sembari melihat Ameng yang menunduk terdiam.

Ameng " Yuma z berat, tapi klo ko ambil keputusan begitu, z pergi, klo jodoh pasti tong ketemu." Jawab Ameng sambil memegang tangan Yuma.

Yuma " Ohh betul, Ameng z lupa z mau kasih ko sesuatu, z pu jaket sama buku ini ko bawa, baca buku ini ee, ketemu kita akan diskusi, klo ko rindu z jaket ni ko peluk." Tutup Yuma sambil pura-pura kuat menahan perasaan.

Sore hari dibawah langit Surabaya, stom kapal berbunyi kapal membawa Ameng pulang ke tanah air. Tanpa sepengetahuan Ameng, diam-diam Yuma terus melihat kapal itu, berlayar meninggalkan pulau Jawa. Karena aktifitas keseharian, mereka jarang memberi kabar. 

Januari awal tahun 2025 Yuma pulang Papua, mereka sepakat untuk ketemu di rumahnya Yuma. Kapal itu sandar di pelabuhan, Yuma melihat dari kejauhan Ameng turun dari tangga menggunakan jaket pemberian Yuma. 

Ameng " Yuma hahaha, ko pu gimbal panjang hahah." tegur Ameng sambil memeluk Yuma. Setelah mereka bertemu Yuma kenalkan Ameng pada orang tua dan keluarga. 

Yuma " Ameng makasih su jaga z PU jaket, z percaya barang saja dong jaga apalagi hati, hahaha." Yuma mulai gara Ameng.

Sore itu, sedikit gerimis depan teras rumah ,langit Nabire yang mendung Yuma mulai beranikan diri untuk bicara :

Yuma " Ameng z harus kembali ke Surabaya, kasih selesai kuliah." Tutur Yuma sambil memandang Ameng yang duduk disampingnya.

Ameng " Yuma z berat Ale, sumpah, tapi z harus relahkan ko pergi, pergi kejar cita-cita buat z dan keluarga." 

Dalam proses berjalan mereka sering dibenturkan dengan berbagai persoalan cemburu, baku marah sampe blokir, lantaran jarak dan lainnya. Satu hal yang tumbuh diantara mereka semua bagian daripada proses mendewasakan yang harus dilalui. 

Tiba waktunya Yuma menyelesaikan kuliah di Surabaya, kembali ke Papua. Yuma dan Ameng mulai mempersiapkan kehidupan kedepan yang lebih serius dengan usaha-usaha kecil untuk menopang kehidupan.

Yuma " Ameng, usaha ni pendapatan tong dua tabung, buat makan dan minum, kalau orang tua minta kasih secukupnya." Tutur Yuma.

Ameng " baik Yuma, z pegang ATM, z akan gunakan sebaik mungkin." Tutur Ameng Yakinkan Yuma. 

Pagi itu, dibawah langit Nabire kota seribu satu kenangan. Trada angin, Trada hujan, tanpa suara dan pesan. Ameng menghilang dari rumah. Yuma memikirkan kondisi Ameng, tiga hari tidak pulang, Yuma terus mencari Ameng. Sore ini dipinggir pantai Yuma terus memikirkan kondisi Ameng. Tiba-tiba hp milik Yuma berdering:

Ameng " Halo io, Yuma z ada ke timika, habis itu ke Jayapura kembali sama z mantan, ATM itu uang z su pake, z tra suka Deng ko pu sifat jadi daa." Tutup Ameng sambil matikan HP.

Yuma " Ameng, bicara tra kastau baru pergi z mau bicara apa ke keluarga, bahh we, Iyo ee, baik." Tutup Yuma sambil melihat foto yang dikirim Ameng bersama mantan sedang foya-foya menggunakan uang hasil usaha yang mereka kerja dengan susah payah.

Ameng " Jadi begitu, nanti ambil ATM, sama ko pu KTP di Z rumah, z tra tinggal di rumah, z di z PU laki baru, jadi begitu." Jawab Ameng.

Bahh Yesus, z tau ini ujian tapi Jang sejahat begini ka.? Pikir Yuma menunduk, air mata, lagu dan Bobo(Minuman lokal Nabire). Menjadi saksi bisu kehancuran Yuma melihat semua.

Z pu keluarga tra restu dari awal tapi, z yang bersih keras tahan ko sampe proses ini. Z berusaha posisikan diri untuk bertanggung jawab dengan usaha kecil-kecil. Ko kalau tra mampu hidup miskin sama z, pergi cari laki-laki yang bisa bawa ko pake mobil, makan di restoran. Tidak ada yang sempurna, karena sempurna milik Tuhan . Pikir Yuma sambil minum duduk dalam diam, tempat mereka saling bercerita melepas rindu.

Seperti seutai kata dalam buku Tokoh Dunia yang Mensukseskan " Dalam diri kaum wanita ada kekurangan, tetapi dalam hati yang mereka punya ada kelebihan".( Arthur Conan Doyle - Novelis Detective)

Ameng ko pu kekurangan itu akan z jadikan pelajaran, ko pu kelebihan itu untuk lelaki baru yang ko pilih. Pikir Yuma dibawah gelap langit Surabaya tempat pertama mereka bertemu.Bersambung.

Cerita Non-fiksi

Penulis adalah masyarakat di Nabire

IPMANAPADODE SURABAYA

Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire Paniai Dogiyai Deiyai (IPMANAPADODE) adalah sebuah wadah perkumpulan mahasiswa/i dari empat kabupaten di provensi papua tengah di antarany Kab.nabire, Paniai Dogiyai Deiyai yang di surabaya saat ini.Dulunya Perkumpulan ini bernama IPMANAPAN (Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire Paniai), Dengan adanya Pemekaran dua kabupaten yaitu Dogiyai dan Deiyai, Nama IPMANAPAN di Ganti dengan Nama IPMANAPADODE, Sehingga Nama ipmanapadode masih di gunakan sampe saat ini.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama