Dokter :
“Kenapa baru datang sekarang? (Saat itu saya sudah siap untuk marah, smua kata-kata yang mau saya bicarakan sudah siap di kepala)...
Ini sudah satu tahun dan akhirnya sekarang sakit lagi to.”
Pasien :
(Hanya menundukkan kepala dan karena sesak dia berusaha menjawab saya dengan pelan)
“Dok… sa pu kampung jauh sekali.
Butuh satu hari perjalanan, jalan kaki susur hutan, turun kali baru bisa sampai ke tempat mobil.”
Dokter :
“Ko tidak tinggal saja di kota supaya bisa rutin ambil obat?”
Pasien :
“Tidak bisa, Dok…
Di sini bukan sa pu rumah.
Sa tidak punya kebun di kota.
Kalau tidak berkebun, sa makan apa?”
Dokter :
(Sampai sini saya pun sudah bingung mau kasi solusi apa karena hal ini yang selalu saya dapatkan, sa kira mungkin ni su 2026
Mungkin su trakan lagi ada cerita begini tapi hari ini.....)
“trus bagaimana dengan obat dua bulan yang saya kasi terakhir?”
Pasien :
“Saya minum obat itu, dok......
Saya pikir nanti kumpul uang dulu di kampung.
Kalau su cukup baru sa turun lagi.
Tapi uang tidak pernah cukup, Dok…
Obatnya habis duluan.”
Dokter :
“Lalu ko pu keadaan bagaimana selama ini?”
(Sejujurnya saya benar2 cemas dengan keadaan pasien saat ini karena saya punya pengalaman pasien 3 bulan tidak minum obat langsung masuk IGD dan tidak tertolong)
Pasien :
“Saya mulai sakit lagi.
Badan lemah, napas sesak.
Dalam keadaan begitu, bagaimana mau kerja kebun?
Bagaimana mau jalan kaki seharian ?
Saya cuma bisa bertahan.”
(hening)
Hati saya tertampar ternyata keinginannya untuk tetap bertahan begitu kuat.
Bahkan penyakit seperti HIV/AIDS pun tak bisa berkutik ditubuh kurus itu.
Pasien :
“Tapi Tuhan baik, Dok.
Ada saudara datang bawa obat dan bantu saya turun.”
(Hasil lab keluar. Banyak angka rendah. Nilai kritis.)
Pasien (dengan napas berat) :
“Dok… saya tau obat itu bagus.
Saya minum obat itu, saya sehat.
Tapi saya tidak ada uang untuk datang ambil obat…”
(hening panjang)
Saya mencoba menarik napas panjang, mengatur emosi saya agar tidak keluar air mata saat itu
Karena saya tau pasien ini juga ingin sehat.
Tapi keadaan yang membuat seperti ini.ðŸ˜
Pasien :
“Mudah-mudahan tahun ini jalan ke kampung sudah dibuka.
(Itu pun doa saya🥹)
---
Hari ini saya belajar lagi,
bahwa kadang orang tidak berhenti berobat karena tidak peduli.
Kadang mereka berhenti karena jarak terlalu jauh.
Karena biaya hidup terlalu berat.
Karena pilihan yang mereka punya memang sangat terbatas.
Di balik hasil laboratorium dengan tanda “kritis”,
ada satu kalimat yang lebih menyayat hati:
“Saya mau sembuh, Dok… tapi saya tidak ada uang.”
Dan sebagai dokter,
kadang yang paling berat bukan membaca angka-angka itu,
tapi menahan air mata saat mendengarnya.
Sumber cerita group Facebook Papua tengah
Oleh : Amoye Kritian
Tags
Cerpen