Cerita pendek Judul: YUMA WAEE



Ditulis Oleh: Anak Jalanan

“Yuma waee…” Entah kenapa, dua kata sederhana itu selalu bikin sapu hati rasa tenang. Padahal sebelumnya sa banyak pikir tentang kitong pu hubungan cinta. Tentang kitong dua yang mungkin tidak selalu baik-baik saja. Tentang rasa takut kehilangan, tentang jarak, tentang banyak hal yang kadang sa sendiri tidak tahu harus mulai dari mana.

Tapi begitu sa dengar kopu suara, semuanya seperti berhenti. Apalagi waktu ko ucap, “Yuma waee.”

Kopu Suara dan nada langsung masuk ke jantung sampe tembus ke hati. Apalagi ketika ko mengucapkannya dua kali. Rasanya seperti ada sesuatu yang menyapu seluruh isi jantung dan hati.

Sa masih ingat pertama kali ko ucapkan kata itu. 

Waktu itu tong dua sedang di pinggiran Surabaya, tepatnya di Suramadu. Malam itu angin bertiup cukup kencang. Lampu-lampu di sepanjang jembatan menyala, sementara suara kendaraan terus berlalu di sekitar tong dua.

Di tengah suasana itu, ko melihat sa lalu berkata pelan, “Yuma waee…” Cuma dua kata. Tapi entah kenapa, dua kata itu terasa lebih kuat daripada banyak kalimat yang pernah sa dengar.

Angin Suramadu berhembus kencang malam itu. Tapi anehnya, angin tidak membawa pergi kopu suara dan kata-kata. Justru seperti angin ikut menjadi saksi dan mendengarkan setiap kata yang ko ucapkan.

Sa lalu berpikir, kalau angin saja bisa setia mendengarkan kopu suara dan kata-kata, bagaimana mungkin sa sebagai manusia yang punya hati dan perasaan bisa melupakan suara itu?

Sejak malam itu, “Yuma waee” bukan lagi sekadar kata bagi sa.

Ia menjadi kenangan.

Setiap kali sa mendengarnya, sapu pikiran kembali ke Suramadu. Kembali ke malam itu. Kembali ke tempat pertama kali ko mengucapkan kata yang sederhana, tetapi mampu tinggal begitu lama di dalam sapu kepala dan jantung-hati.

Kadang sa bertanya dalam hati, apakah ko masih ingat malam itu?

Apakah ko masih ingat bagaimana angin Suramadu berhembus?

Apakah ko masih ingat bagaimana ko mengucapkan kata itu ke sa?

Atau mungkin semua itu hanya tinggal kenangan bagi sa?

Entahlah.

Yang sa tahu, sampai sekarang, ketika suara kembali terdengar “Yuma waee” sapu hati selalu kembali ke tempat yang sama.

Ke Suramadu.

Ke malam itu.

Ke ko.

Mungkin bagi ko, “Yuma waee” hanyalah dua kata sederhana yang keluar begitu saja. Tapi bagi sa, dua kata itu pernah menjadi tempat pulang ketika hati sedang tidak tenang.

Dua kata itu pernah membuat sa tersenyum.

Dua kata itu pernah membuat sa merasa dicintai.

Dan pada akhirnya, dua kata itu juga yang membuat sa sadar bahwa ada beberapa suara yang tidak pernah benar-benar pergi, meskipun orang yang mengucapkannya mungkin sudah jauh.

Yuma waee…

Dua kata sederhana.

Namun bagi sa, itu adalah suara yang pernah membuat hati ini tenang, sekaligus suara yang membuat hati ini hancur karena terlalu dalam menyimpan rasa.

Dan mungkin, sampai kapan pun, ketika angin malam berhembus melewati Suramadu, sa akan selalu teringat satu suara yang pernah tinggal begitu dalam di hati: “Yuma waee…”

Sekilas cerpen...

IPMANAPADODE SURABAYA

Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire Paniai Dogiyai Deiyai (IPMANAPADODE) adalah sebuah wadah perkumpulan mahasiswa/i dari empat kabupaten di provensi papua tengah di antarany Kab.nabire, Paniai Dogiyai Deiyai yang di surabaya saat ini.Dulunya Perkumpulan ini bernama IPMANAPAN (Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire Paniai), Dengan adanya Pemekaran dua kabupaten yaitu Dogiyai dan Deiyai, Nama IPMANAPAN di Ganti dengan Nama IPMANAPADODE, Sehingga Nama ipmanapadode masih di gunakan sampe saat ini.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama