![]() |
| Photo Ilustrasi Cerita dibahwa |
Di satu sudut kampung, matahari su mau masuk ke peraduan,
tapi Kaka pung hati sonde tenang. Dia pung badan rasa gatal tra minta ampun.
Dia garuk sana, garuk sini, sampai kulit merah-merah.
"Adooh, gatal skali ini badan e! Tra bisa tahan
lagi," Kaka mengeluh, muka su lipat-lipat tahan rasa tra enak itu.
Pas dia lagi gelisah begitu, satu perempuan datang dekat. Dia
pung senyum manis, tapi ada maksud di balik itu. Dia bicara pelan-pelan di
telinga, "Kaka, kalau gatal begitu, mari... kita senang-senang sebentar
saja. Nanti itu gatal pasti hilang, ko rasa enak toh."
Kaka tra pikir panjang lagi. Dia pung pikiran su melayang,
cuma mau cari senang sesaat. Dia ikut itu perempuan, dorang dua pi cari
"obat" yang sebenarnya racun. Pas su selesai, Kaka rasa lega skali.
Dia pikir, "Ah, gatal su hilang, badan su segar."
Tapi, waktu tra bisa tipu.
Beberapa minggu lewat, Kaka pung badan mulai layu macam daun
kena panas mati. Demam datang hantam dia pung pertahanan, tra mau turun-turun.
Kulit yang dulu mulus sekarang mulai muncul luka-luka kecil yang perih. Kaka
pung hati mulai taku, dia pung kaki berat sekali mau melangkah ke puskesmas.
Pas hasil keluar, dokter bilang: "Kaka, ko positif
HIV."
Dunia rasa kiamat. Kaka pung air mata jatuh satu-satu, basah
dia pung baju. Dia menangis sedu-sedu sambil bicara pelan, "Tuhan e... sa
cuma mau itu gatal hilang sebentar saja, tapi kenapa sekarang sa musti pikul
luka ini seumur hidup?"
Pesan Moral dari Cerita
Kisah Kaka ini jadi cermin buat katong semua. Ingat
baik-baik: Senang sesaat itu macam madu yang di dalamnya ada mata kail.
Kepuasan yang cuma sekejap bisa bawa penderitaan yang panjang dan menyakitkan.
HIV itu bukan cuma soal sakit di badan, tapi soal keputusan yang katong ambil
tanpa pikir panjang. Jangan sampai karena mau lepas "gatal" yang
sebentar, katong korbankan masa depan dan hidup sesat selamanya.
Jaga diri baik-baik, karena hidup ini terlalu berharga untuk
ditukar dengan senang yang palsu.
.png)