![]() |
| Ironi Larangan Tanpa Solusi |
Mudah bagi pemerintah daerah
untuk melarang minuman keras, judi, dan lem aibon. Tapi larangan tanpa
menyentuh akar masalah hanyalah sandiwara moral. Rakyat yang lapar, tertekan,
dan tidak punya harapan ekonomi akan selalu mencari jalan keluar — apapun bentuknya.
Mereka bukan pecandu karena lemah iman, mereka adalah korban dari sistem yang
gagal melindungi mereka. Pertanyaan yang harus dijawab pemerintah bukan
"kenapa rakyat kami minum?" tetapi "kenapa hidup mereka begitu
menyakitkan sampai mereka butuh pelarian?"
Mahalnya Harga Barang di Papua:
Kejahatan Struktural
Papua adalah salah satu wilayah
paling kaya sumber daya alam di dunia — emas, tembaga, gas, hutan, laut. Namun
rakyatnya membayar harga bahan pokok tertinggi di Indonesia. Ini bukan
kemalangan alam. Ini adalah hasil dari:
·
Infrastruktur yang sengaja dibiarkan lambat —
padahal anggaran ada
·
Distribusi yang tidak merata karena jalur
logistik dikuasai pihak tertentu
·
Dana otonomi khusus yang bocor sebelum sampai ke
tangan rakyat
Ketika beras mahal, susu mahal,
obat-obatan mahal — sementara pejabat lokal membangun rumah mewah — rakyat
melihat semuanya. Mereka tidak bodoh. Mereka hanya tidak punya kuasa.
Korupsi Lokal: Penghianat yang
Bersembunyi di Balik Nama Rakyat
Sejarah mengajarkan kita sesuatu
yang penting dan sering dilupakan: penjajahan tidak selalu datang dari luar.
Waktu zaman VOC, ada orang-orang lokal yang bekerja sama dengan penjajah —
menjadi perantara, mengambil keuntungan, sementara rakyat jelata menanggung
beban. Sejarah resmi sering menulis nama-nama pahlawan, tapi jarang mengungkap
siapa yang mengkhianati dari dalam. Sejarah yang tidak lengkap itu berbahaya —
karena generasi hari ini tidak bisa mengenali pola yang sama ketika ia muncul
kembali dalam wajah baru.
Pola ini berulang hari ini.
Pemerintah pusat mengirim dana — dana otonomi khusus Papua jumlahnya ratusan
triliun rupiah sejak 2001. Tapi yang menikmati adalah segelintir elite daerah.
Satu orang kenyang, seribu orang kelaparan. Koruptor daerah adalah pembunuh
diam-diam. Mereka tidak menembak dengan peluru, tapi mereka membunuh dengan:
- - Gizi buruk yang bisa dicegah tapi dibiarkan
- - Sekolah rusak yang anggarannya sudah dicairkan
- - Puskesmas tanpa obat padahal obatnya sudah dianggarkan
- - Jalan yang tidak pernah selesai dibangun meski proyek terus berjalan
Pemerintah yang Seharusnya Pasang
Badan
Pemimpin yang sejati tidak
berdiri di podium melarang rakyat. Pemimpin yang sejati pasang badan — artinya:
1. Berani
melawan korupsi di dalam lingkarannya sendiri, bukan hanya pidato anti-korupsi
2. Memastikan
harga barang terjangkau dengan subsidi logistik yang tepat sasaran
3. Membuka
lapangan kerja nyata sehingga rakyat punya martabat ekonomi
4. Mendengar,
bukan melarang — duduk bersama rakyat Papua dan tanya: apa yang kalian
butuhkan?
Rakyat yang bahagia tidak perlu
dilarang. Rakyat yang hidupnya bermartabat tidak akan lari ke botol atau lem.
Senyum rakyat yang tulus lahir dari keadilan, bukan dari rasa malu karena takut
dihukum.
Meluruskan Sejarah yang Bengkok
Ada bahaya besar ketika sejarah
ditulis hanya oleh mereka yang menang atau yang berkuasa. Kisah VOC yang
diajarkan di sekolah sering menekankan perlawanan heroik — tapi jarang
mengajarkan siapa yang membantu VOC dari dalam, siapa yang menjual tanah dan
manusia demi keuntungan pribadi. Akibatnya, generasi sekarang tidak belajar
mengenali pola yang sama ketika ia muncul kembali dalam wajah baru: bukan bule
berseragam, tapi pejabat lokal berjas rapi yang korupsi atas nama pembangunan.
Sejarah yang salah menghasilkan diagnosis yang salah. Dan diagnosis yang salah
berarti obat yang salah — larangan minuman keras alih-alih pemberantasan
korupsi, razia jalanan alih-alih reformasi anggaran.
Siapa Sesungguhnya yang Harus
Ditertibkan?
Kalau pemerintah serius ingin
Papua maju, urutannya harus benar:
Pertama, berantas korupsi di
tubuh pemerintahan daerah sendiri.
Kedua, turunkan harga barang dan perbaiki infrastruktur.
Ketiga, ciptakan lapangan kerja dan pendidikan berkualitas.
Baru kemudian, bicara soal
perilaku sosial masyarakat.
Jangan balik urutannya. Jangan
hukum rakyat atas penderitaan yang kamu ciptakan sendiri. Papua kaya. Rakyatnya
berhak menikmati kekayaan itu. Setiap hari yang berlalu tanpa keadilan adalah
hari yang dicuri.
Catatan Penulis
1. Tentang Solusi dan Strategi
Jika ada yang bertanya atau menantang — "kalau begitu apa solusinya?" — saya siap menjawab. Bukan karena saya pintar atau sok tahu. Saya bukan akademisi, saya bukan politisi. Tapi saya adalah orang lokal yang menangis setiap hari melihat kondisi ini dengan mata kepala sendiri. Air mata saya adalah bukti bahwa tulisan ini lahir dari rasa, bukan dari teori. Solusi dan strategi itu ada — dan saya siap duduk bersama siapapun yang mau mendengar dengan hati yang jujur dan niat yang bersih.
2. Artikel Ini Bukan Serangan,
Ini Cermin
Tulisan ini bukan untuk
menjatuhkan siapapun. Ini adalah cermin yang kita pegang bersama — supaya kita
melihat wajah asli masalah yang sudah terlalu lama disembunyikan di balik pidato
dan spanduk pembangunan.
3. Untuk Generasi Muda Papua
Pelajari sejarah dengan mata
terbuka. Jangan terima begitu saja apa yang ditulis di buku pelajaran. Tanya
siapa yang menulis, untuk kepentingan siapa, dan apa yang sengaja tidak
ditulis. Kesadaran sejarah adalah senjata yang tidak bisa dirampas.
4. Untuk Para Pejabat yang Masih
Punya Nurani
Masih ada waktu untuk berbalik. Satu keputusan jujur dari seorang pemimpin bisa mengubah nasib ribuan orang. Jangan tunggu dihukum hukum — takutlah pada air mata rakyat yang sudah terlalu lama mengalir diam-diam.
By: Patianus — Pengamat Lokal,
Timur Papua
Sumohai, 8 April 2026
sumber text Group WhastApp-ARTIKEL GEMBALA DR.AMBIREK G.SOCRATEZ YOMAN
